jump to navigation

MODEL PEREKONOMIAN TERBUKA December 9, 2007

Posted by Suheri in Sharia Economics.
trackback

A. Kebijakan Fiskal Islami 

Kebijakan fiskal diartikan sebagai langkah pemerintah untuk membuat perubahan-perubahan dalam sistem pajak atau dalam pembelanjaan (dalam konsep makro disebut dengan goverment expenditure)1. ebijaksanaan fiskal dalam Islam bertujuan untuk meningkatkan kesejah­teraan dengan tetap menjaga kehidupan, intelektualitas, kekayaan, kepemilikan, dan keimanan. Sedangkan dalam perekonomian sekuler semata-mata bertujuan untuk kebutuhan hidup tanpa memandang kebutuhan keimanan, yaitu lebih kepada pengalokasian sumber daya secara efisien sehingga tercapai stabilitas ekonomi, pertumbuhan dan terjadinya distribusi baik pendapatan maupun kepemilikan.Dalam sistem ekonomi Islam kebijakan fiskal menjadi penting dengan tidak dikenalnya sistem bunga.  Kebijakan fiskal pada masa nabi dan kalifah, diselenggarakan melalui aktivitas Baitulmal yaitu suatu lembaga yang bertugas mengumpulkan harta negara entah diperoleh dari umat Islam sendiri atau dari rampasan perang, untuk disalurkan kepada orang-orang yang berhak menerima atau untuk kebutuhan angkatan bersenjata. Para khalifah waktu itu memegang kebijakan utama kemana harta-harta itu akan disalurkan 2  Harta negara yang dikelola tersebut ditujukan pada kepentingan umat terutama dalam menciptakan pendistirbuasian ekonomi secara adil, seperti tercantum dalam surat Al Hasyr ayat 7 yang menjelaskan agar harta jangan hanya beredar di antara orang-orang yang kaya saja.

“Apa saja harta rampasan (fai-i) yang diberikan Allah kepada RasulNya (dari harta benda) yang berasal dari penduduk kota-kota Maka adalah untuk Allah, untuk rasul, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan beredar di antara orang-orang Kaya saja di antara kamu. apa yang diberikan Rasul kepadamu, Maka terimalah. dan apa yang dilarangnya bagimu, Maka tinggalkanlah. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya.”

Dengan demikian tujuan kebijakan fiskal di dalam Islam adalah untuk kepentingan kesejahteraan. Konsep kesejahteraan di sini meliputi pengetian yang sangat luas, baik di kepentingan dunia maupun akhirat.  Dan kebijaksanaan fiskal tidak hanya menaruh perhatian pada pen­dapatan dan pembelanjaan negara, tetapi juga pada pilihan berbagai instrumen kebijakan perpajakan dan pola pembelanjaan negara. Cara yang berbeda dalam menaikkan dan membelanjakan anggaran memiliki dampak ekonomi yang berbeda. 3

 B. Voluntary Sector dalam Sistem Ekonomi Islam 

Sektor ekonomi Islam meliputi sektor wajib dan sukarela.  Untuk sektor wajib dikenal konsep zakat yang dibebankan kepada orang yang telah memenuhi nisab atas kekayaan yang dimilikinya, sedangkan sektor sukarela dikenal konsep infak, sedekah dan wakaf.  Komponen ini merupakan bagian yang termasuk dalam kebijakan fiskal.  Suatu hal yang unik jika dibandingkan dengan ekonomi konvensional adalah bahwa pada pada ekonomi konvensional tidak dikenal adanya sektor sukarela dalam ekonomi.  Wakaf Sebagai salah satu komponen fiskal yang bersifat sukarela, tidak ada pernyataan yang jelas dan  tegas disebutkan di dalam Al-Qur’an, tetapi ada beberapa ayat yang dapat dijadikan dasar hukum wakaf. Salah satunya adalah firman Allah  dalam surat Ali Imran ayat 92 berikut:

Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.” 

Beberapa ahli berpendapat, yang termasuk shadaqah jariyah dalam hadis itu, salah satunya, adalah harta yang diwakafkan.4Adapun wakaf dalam hukum Islam, berarti menyerahkan suatu hak milik yang tahan lama (zatnya) kepada seseorang atau nadzir (penjaga wakaf) baik berupa perorangan maupun lembaga, dengan ketentuan bahwa hasilnya digunakan sesuai dengan syariat Islam. Harta yang telah diwakafkan keluar dari hak milik yang mewakafkan (wakif), dan bukan pula hak milik nadzir/lembaga pengelola wakaf tapi menjadi hak milik Allah yang harus dimanfaatkan untuk kesejahteraan masyarakat.  Dengan demikina maka harta wakaf semestinyalah dikelola sehingga manfaatnya menjadi lebih banyak.Selain wakaf dalam bentuk lahan, sesuai dengan fatwa yang dikeluarkan oleh Komisi Fatwa MUI tanggal 11 Mei 2002, dikenal pula wakaf tunai. Wakaf tunai lebih bersifat fleksibel dari pada wakaf tanah/bangunan dan pendistribusian-nya tidak mengenal batas wilayah. Jika kita mempelajari zaman keemasan perkembangan wakaf sekitar abad ke-8 dan ke-9 Hijriah, wakaf meliputi berbagai macam aset.  Aset tersebut dapat berupa masjid, musala, sekolah, tanah pertanian, rumah, toko, kebun, pabrik roti, bangunan kantor, gedung pertemuan, tempat perniagaan, pasar, tempat pemandian, gudang beras, dan lain-lain (Uswatun Hasanah, 2001:13 dari Hasan Langgulung, 1991: 173). 5Agar wakaf dapat lebih berkembang, Badan Wakaf menitipkan hasil harta wakaf di bank-bank Islam. Badan Wakaf juga berpartisipasi men-didirikan bank-bank Islam. Badan Wakaf juga bekerja sama dengan sejumlah perusahaan, membeli saham dan obligasi pemsahaan penting dan memanfaatkan lahan-lahan kosong agar menjadi produktif.  Hasil pengembangan wakaf secara garis besar dimanfaatkan untuk membantu kehidupan masyarakat miskin, anak yatim, pedagang kecil dan kaum duafa lainnya. Juga untuk meningkatkan kesehatan masya­rakat, mendirikan rumah sakit, dan menyediakan obat-obatan bagi masyarakat. Selain itu digunakan pula untuk mendirikan dan memelihara masjid, dan sekolah. Dan tak kalah pentingnya adalah untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. 

C  Perekonomian Terbuka: Export-Impor/Kurs

Dalam menganalisa suatu perkenomian, dikenal dua model perekonomian, yaitu perekonomian tertutup dan perekonomian terbuka. 

Perekonomian tertutup adalah model perekonomian yang pada pelakunya, khususnya Produsen dan Konsumen, secara sederhana akan melakukan kegiatan dalam penjualan dan pembelian di pasar yang saling melengkapi untuk memenuhi kebutuhan dan kepentingannya masing-masing. Dalam transaksi pasar tersebut, mereka akan terikat dengan kontrak dagang atau kesepakatan jual beli, dan kemudian ditetapkanlah harga jual atau harga beli dari kegiatan tersebut.    Untuk memfasilitasi kegiatan produksi dan kegiatan konsumsi ini secara efektif maka sistem perekonomian memerlukan Lembaga perbankan dan lembaga keuangan lainnya seperti pasar modal, lembaga asuransi, lembaga penjamin, pegadaian atau lembaga keuangan mikro yang terdapat di daerah pedesaan. Lembaga Perbankan peranannya sangat vital untuk mengumpulkan dana-dana yang ada di masyarakat, yang selanjutnya mereka akan melakukan pengalokasian dana tersebut melalui pemberian fasilitas perkreditan atau jasa perbankan lainnya.  Hal ini dikatakan  ekonomi pasar tertutup, karena didalamnya  belum termasuk peran luar negeri dalam sistem ekonomi tersebut.

Pada sistem ekonomi yang terbuka, terdapat kemungkinan dari produsen untuk melakukan kegiatan ekspor barang dan produk dagangan dengan tujuan pasar-pasar di negara lain atau sebaliknya melakukan kegiatan impor atas bahan mentah dan bahan penolong serta mesin atau barang jadi dari luar negara.  Dalam model terbuka ini jasa perbankan dan lembaga keuangan dapat juga berasal dari luar negeri dan kita dihadapkan pada sistem perekonomian yang semakin menyatu (the borderless economy) yang disebut dengan the global economy. 6Dengan memasukkan sektor luar negeri ke dalam model penghitungan pendapatan nasional, berarti kita menamijahkan dua variabel dalam model perekonomian tiga sektor, yaitu variabel ekspor (X) dan variabel impor (M). Dengan demikian untuk menghitung pendapatan nasional keseimbangan pada perekonomian terbuka dilakukan dengan jalan menyamakan antara sisi pendapatan dan sisi pengeluaran.Dalam sistem perekonomian terbuka ini, pengeluaran untuk impor dibedakan menjadi dua jenis, yaitu apakah impor itu tergantung dari variabel lain, atau tidak (nilainya dianggap tetap).Untuk impor yang nilainya tetap dapat dituliskan sebagai berikut :M = M0;  di mana M0 adalah besarnya imporSedangakn impor yang nilainya tergantung dari besar kecilnya pendapatan dirumuskan sebagai berikut: M= M0 + mY, di mana Y adalah pendapatn dan m adalah Marginal Propensity to ImportMenurut Tedi Heriayanto 8, tolok ukur yang baik untuk menilai kadar keterbukaan suatu perekonomian adalah rasio ekspor dan impor terhadap total GNP. Jika rasio ekspor-impor terhadap GNP melebihi 50%  maka dikatakan perekonomian lebih terbuka. Perdagangan internasional dapat terjadi karena beberapa alasan, yaitu :

  • Keanekaragaman kondisi produksi. Perdagangan diperlukan karena adanya keanekaragaman kondisi produksi di setiap negara. Misalnya, negara A karena beriklim tropis dapat berspesialisasi memproduksi pisang, kopi; untuk dipertukarkan dengan barang dan jasa dari negara lain.
  • Penghematan biaya. Alasan kedua adalah timbulnya increasing returns to scale (penurunan biaya pada skala produksi yang besar). Banyak proses produksi menikmati skala ekonomis, artinya proses produksi tersebut cenderung memiliki biaya produksi rata-rata yang lebih rendah ketika volume produksi ditingkatkan. Cara apa yang lebih baik untuk meningkatkan produksi selain menjualnya ke pasar global ?
  • Perbedaan selera. Sekalipun kondisi produksi di semua daerah serupa, setiap negara mungkin akan melakukan perdagangan jika selera mereka berbeda. Contohnya, negara A dan B menghasilkan daging sapi dan daging ayam dalam jumlah yang hampir sama, tetapi karena masyarakat negara A tidak menyukai daging sapi, sedang negara B tidak menyukai daging ayam, dengan demikian ekspor yang saling menguntungkan dapat terjadi di antara kedua negara tersebut, yaitu bila negara A mengimpor daging ayam dan mengekspor daging sapi, sebaliknya negara B mengimpor daging sapi dan mengekspor daging ayam. 
  • Prinsip keunggulan komparatif (comparative advantage). Prinsip ini mengatakan bahwa setiap negara akan berspesialisasi dalam produksi dan mengekpor barang dan jasa yang biayanya relatif lebih rendah (artinya lebih efisien dibanding negara lain); sebaliknya setiap negara akan mengimpor barang dan jasa yang biaya produksinya relatif lebih tinggi (artinya kurang efisien dibanding negara lain).

Dengan adanya perekonomian terbuka dan setiap negara berkonsentrasi pada bidang yang memiliki keunggulan komparatif, maka kehidupan semua orang akan menjadi lebih baik. Pekerja di setiap negara dapat memperoleh konsumsi dalam jumlah yang meningkat untuk jumlah jam kerja yang sama.

Neraca Pembayaran Internasional

Berbagai permasalahan ekonomi dewasa ini sebagian besar sangat terkait dengan permasalahan defisit neraca pembayaran dan utang atau kredit luar negerinya.

Neraca pembayaran internasional (international balance of payment) suatu negara merupakan laporan keuangan negara yang bersangkutan atas semua transaksi ekonomi dengan negara-negara lain yang disusun secara sistematis; neraca ini menghitung dan mencatat semua arus barang, jasa, dan modal antara suatu negara dengan negara lain.

Neraca pembayaran luar negeri suatu negara pada umumnya dibagi ke dalam empat bagian, yaitu:

  • Transaksi berjalan (current account). Termasuk ke dalamnya barang dagangan (neraca perdagangan), pos-pos tak berwujud (jasa, dan pendapatan dari investasi netto), dan ekpor atau impor serta bantuan pemerintah.
  • Neraca modal (capital account). Termasuk ke dalamnya pembelanjaan swasta dan pemerintah dan penjualan aset seperti saham, obligasi, dan real estate).
  • Penyimpangan statistik.
  • Penyelesaian resmi (official settlements).

Total item yang termasuk bagian 1 biasanya disebut saldo transaksi berjalan. Hal ini memuat selisih antara total ekspor dengan total impor barang dan jasa. Bila total ekspor melebihi total impor barang dan jasa maka akan terjadi surplus transaksi berjalan, sebaliknya akan terjadi defisit transaksi berjalan.

Sejarah menunjukkan bahwa setiap negara cenderung untuk memiliki beberapa tahapan dalam neraca pembayaran mereka, mulai dari negara debitur muda hingga negara kreditur madya.

Negara debitur muda

Dalam tahapan ini suatu negara lebih banyak mengimpor daripada mengekspor, selisih di antara keduanya ditutup melalui pinjaman luar negeri, sehingga memungkinkan negara tersebut menumpuk modal.

Negara debitur madya

Dalam tahapan ini neraca perdagangan suatu negara telah surplus, akan tetapi pertumbuhan dividen dan bunga yang harus dibayarkan untuk pinjaman luar negeri, menjadikan saldo neraca modalnya kurang seimbang.

Negara kreditur muda

Dalam masa ini suatu negara mengembangkan ekspornya secara luar biasa. Negara meminjamkan uang kepada negara-negara lain.

Negara kreditur madya

Pada tahapan ini, pendapatan modal dan investasi luar negeri memberikan surplus cukup besar terhadap pos tak tampak, yang kemudian diseimbangkan dengan defisit neraca perdagangan.

Nilai ekspor dan impor yang terlihat dalam saldo transaksi berjalan, dipengaruhi oleh kurs mata uang yang digunakan.  Selain itu kekuatan nilai tukar (kurs) akan mempengaruhi nilai ekspor atau impor dari suatu negara terhadap negara lainnya. 

=========================================================================  DAFTAR PUSTAKA 
1.   Nasution dkk, Pengenalan Eksklusif Ekonomi Islam, Kencana Prenada Media 
      Group, 2006
2.  
Baitul Mal wat Tamwil (BMT)  
     
http://www.nu.or.id/page.php?lang=id&menu=news_view&news_id=9911,
      05/08/2007
Aditiawan Chandra,
3.  
http://businessenvironment.wordpress.com/2006/11/25/bagaimana-membaca-
      perkembangan-
perekonomian-makro/
4.   Metwally, Teori dan Model Perekonomian Islam, PT Bangkit Daya Insana, 1995
5.   Dan sumber lainnya.
  

About these ads

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: