jump to navigation

INFLASI DALAM PERSPEKTIF ISLAM December 9, 2007

Posted by Suheri in Sharia Economics.
trackback

A.     SEJARAH INFLASI 

Inflasi seringkali berbentuk kenaikan tingkat harga secara gradual daripada ledakan kekacauan ekonomi.  Di Eropa, inflasi terjadi karena revolusi harga yang terjadi sepanjang beberapa abad, Kenaikan harga sangat cepat pada beberapa bahan-bahan mentah terutama makanan.  Kenaikan terjadi sampai 700 % selama 170 tahun atau 1,2 % pertahun sementara gaji hanya naik setengahnya, sehingga masyarakat mengalami goncangan akibat tekanan inflasi. Apa yang menyebabkan inflasi terjadi, tidak ada sebab utama yang dapat disalahkan. Semua adalah akibat gabungan dari penurunan produksi pertanian, pajak yang berlebihan, depopulasi,  manipulasi pasar, biaya tenaga kerja yang tinggi, pengangguran, kemewahan yang berlebihan, dan sebab-sebaba yang lainnya, seperti perang yang berkepanjangan, embargo, dan pemogokan kerja (Adiwarman Karim, 2007).Fenomena seperti ini diamati oleh A.W. Phillips pada tahun 1958 dan  menemukan bahwa terdapat hubungan yang negatif antara inflasi dengan tingkat pengangguran yaitu, Semakin rendah tingkat pengangguran, maka tingkat inflasi akan semakin tinggi. Sebaliknya semakin tinggi tingkat pengangguran, maka tingkat inflasi akan semakin rendah atau bahkan bisa terjadi inflasi yang negatif (deflasi). Dengan kata lain terdapat trade-off antara inflasi dengan tingkat pengangguran dalam publikasi studi komprehensif yang menggambarkan hubungan tingkat inflasi dengan tingkat pengangguran (rate of unemployment) di Inggris selama tahun 1861 – 1957. Pada saat di Amerika Serikat dan banyak negara OECD (Organization for Economic Cooperation and Development) terjadi tingkat inflasi dan tingkat pengangguran yang tinggi, hubungan inflasi dengan tingkat inflasi tersebut tidak sesuai teori Kurva Phillips sederhana, sehingga bertentangan dengan apa yang digambarkan dalam kurva Phillips. Saat itu hubungan yang terjadi adalah antara tingkat pengangguran dengan perubahan tingkat inflasi.  

B.     TEORI INFLASI KONVENSIONAL

 Inflasi dapat didefinisikan sebagai kecenderungan dari harga-harga untuk meningkat secara umum dan terus menerus. Dalam wikipwdia, inflasi didefinisikan sebagai suatu proses meningkatnya harga-harga secara umum dan terus-menerus (kontinu). Dengan kata lain, inflasi juga merupakan proses menurunnya nilai mata uang secara kontinu. Kenaikan harga dari satu atau dua barang saja tidak dapat disebut inflasi kecuali bila kenaikan itu meluas (atau mengakibatkan kenaikan) kepada barang lainnya. Inflasi dapat dianggap sebagai fenomena moneter karena terjadinya penurunan nilai unit penghitungan moneter terhadap suatu komoditas. Sementara itu para ekonom modern mendefinisikannya sebagai kenaikan yang menyeluruh dari jumlah uang yang harus dibayarkan (nilai unit penghitungan moneter) terhadap barang-barang/komoditas. Kebalikan dari inflasi disebut deflasi, yaitu kecenderungan terjadinya penurunan harga umum dan terus menerus. Inflasi diukur dengan tingkat inflasi (rate of inflation) yaitu tingkat perubahan dari harga umum, dengan persamaan sebagai berikut : 

rate of inflation =           tingkat harga t – tingkat harga t-1  x 100
                                                  tingkat harga t-1 

Para Ekonom cenderung lebih senang menggunakan “Implicit Gross Domestic Product Deflator” atau GDP Deflator untuk melakukan pengukuran tingkat inflasi. GDP Deflator adalah rata-rata harga dari seluruh barang tertimbang dengan kuantitas barang-barang tersebut yang betul-betul dibeli. Penghitungan dari GDP Deflator ini sangat sederhana, persamaannya adalah sebagai berikut : 

Implicit Price Deflator = Nominal GDP  x 1000
                                         Riil GDP

Untuk dapat mengerti apa dan bagaimana inflasi, perlu dipahami bahwa uang mempunyai fungsi-fungsi sebagai berikut dalam perekonomian, media pertukaran, pengukur nilai, unit perhitungan dan akuntansi, penyimpan nilai, dan instrumen terms of payment Adapun penggolongan inflasi menurut Paul A. Samuelson dalam Adiwarman A. Karim,  didasarkan pada  tingkat keparahannya, yaitu :

-        Moderate inflation

Umumnya disebut sebagai inflasi satu digit dengan karakteristik tingkat kenaikan harga yang lambat.  Pada tingkat inflasi seperti ini, orang masih mau memegang uang dan menyimpan kekayaannya dalam bentuk uang dari pada dalam bentuk asset riil.-        Galloping inflationInflasi yang terjadi pada tingkat ini berkisar 20% sampai 200% per tahun. Pada tingkat ini, orang hanya mau memegang uang seperlunya saja, sedangkan kekayaan disimpan dalam bentuk asset riil, seperti rumah, tanah, dan lain-lain. Pasar uang akan mengalami penyusutan dan pendanaan akan dialokasikan melalui cara-cara selain dari tingkat bunga dan orang hanya akan mau memberi pinjaman dengan tingkat bunga yang sangat tinggi. Kondisi ekonomi seperti ini cenderung mengalami gangguan karena orang akan lebih senang berinvestasi di luar negeri dari pada di dalam negeri (capital outflow).

-        Hyper inflationInflasi

yang terjadi sangat tinggi. Walaupun sepertinya banyak pemerintahan yang perekonomiannya dapat bertahan menghadapi galloping inflation, namun tidak pernah ada pemerintahan yang dapat bertahan menghadapi inflasi jenis ketiga ini. Contohnya adalah Weimar Republic di Jerman pada tahun 1920-an.Untuk mengukur tekanan inflasi, dapat menggunakan beberapa indikator seperti;  Indeks Harga Konsumen (IHK), merupakan indikator yang umum digunakan untuk menggambarkan pergerakan harga. Perubahan IHK dari waktu ke waktu menunjukkan pergerakan harga dari paket barang dan jasa yang dikonsumsi masyarakat, Indeks Harga Perdagangan Besar (IHPB), merupakan indikator yang menggambarkan pergerakan harga dari komoditi-komoditi yang diperdagangkan di suatu daerah.Adapun inflasi dapat timbul disebabkan karena :

-        Tekanan dari sisi supply (cost push inflation),

Faktor-faktor terjadinya cost push inflation dapat disebabkan oleh depresiasi nilai tukar, dampak inflasi luar negeri terutama negara-negara partner dagang, peningkatan harga-harga komoditi yang diatur pemerintah (administered price), dan terjadi negative supply shocks akibat bencana alam dan terganggunya distribusi. Inflasi desakan biaya ini juga terjadi pada saat perekonomian berkembang dengan pesat ketika tingkat pengangguran sangat rendah.

-        Tekanan dari sisi permintaan (demand pull inflation),

Faktor penyebab terjadi demand pull inflation adalah tingginya permintaan barang dan jasa relatif terhadap ketersediaannya. Dalam konteks makro ekonomi, kondisi ini digambarkan oleh output riil yang melebihi output potensialnya atau permintaan total (agregate demand) lebih besar dari pada kapasitas perekonomian.-        Ekspektasi inflasi. Faktor ekspektasi inflasi dipengaruhi oleh perilaku masyarakat dan pelaku ekonomi apakah lebih cenderung bersifat adaptif atau forward looking. Hal ini tercermin dari perilaku pembentukan harga di tingkat produsen dan pedagang terutama pada saat menjelang hari-hari besar keagamaan (lebaran, natal, dan tahun baru) dan penentuan upah minimum regional (UMR). Pada Expected Inflation tingakt suku bunga pinjaman riil akan sama dengan tingakt suku bunga pinjaman nominal dikurangi inflasi.

-        Natural Inflation dan Human Error Inflation.

Natural Inflation adalah inflasi yang terjadi karena sebab-sebab alami yang manusia tidak mempunyai kekuasaan dalam mencegahnya. Human Error Inflation adalah inflasi yang terjadi karena kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh manusia sendiri.

-        Spiralling Inflation,

diakibatkan oleh inflasi yang terjadi sebelum-sebelumnya.

-        Imported Inflation dan Domestic Inflation.

Imported Inflation adalah inflasi di negara lain yang ikut dialami oleh suatu negara karena harus menjadi price teker dalam pasar perdangangan international.   

Inflasi, Ekspektasi Inflasi (Expected Inflation) dan Tingkat Pengangguran

Persamaan yang menghubungkan antara inflasi, ekspektasi inflasi, dan pengangguran digambarkan  sebagai berikut :

p = pe + (m + z) – am

p       = inflasi
pe   =  ekspektasi inflasi
z     =  tingkat pengangguran alamiah
m    =   kekuatan efek dari tingkat pengangguran terhadap upah
a       =  tingkat pengangguran 

Hubungan antara tingkat pengangguran dan inflasi (Phillips Curve) dapat digambarkan dengan persamaan berikut

pt = pea (Ut – Un)

p       =  inflasi
pe   =  ekspektasi inflasi
u    =  tingkat pengangguran (unemployment)
a       =  deviasi dari tingkat pengangguran (unemployment)

Dengan demikian inflasi yang terjadi akan tergantung pada ekspektasi inflasi dan deviasi dari unemployment rate terhadap natural rate of inflation.  

Hubungan antara pertumbuhan output dan perubahan dari unemployment rate dikenal sebagai Okun’s Law, dengan persamaan sebagai berikut :

Ut – Ut-1  =  - g yt

Berdasarkan persamaan tersebut, perubahan dari unemployment rate akan sama dengan negatif dari tingkat pertumbuhan output.

 Hubungan antara pertumbuhan output, pertumbuhan money growth dan inflasi dapat digambarkan melalui persamaan berikut :

Yt   =          g    Mt
                        Pt

Dimana Y adalah output,
g adalah deviasi dan
M/P adalah real money.

Dengan demikian berdasarkan persamaan tersebut output mempunyai hubungan yang positif dengan real money, namun output mempunyai hubungan yang negatif dengan harga (P).  Jika real money meningkat, maka interest rate akan menurun dan output (Y) akan meningkat.  Sedangkan Jika real money menurun, maka interest rate akan meningkat dan output (Y) akan menurun. 

C.     TEORI INFLASI ISLAM

Islam tidak mengenal istilah inflasi, karena mata uangnya stabil dengan digunakannya mata uang  dinar dan dirham. Penurunan nilai masih mungkin terjadi, yaitu ketika nilai emas yang menopang nilai nominal dinar itu mengalami penurunan, diantaranya akibat ditemukannya emas dalam jumlah yang besar, tapi keadaan ini kecil sekali kemungkinannya. Ekonom Islam Taqiuddin Ahmad ibn al-Maqrizi (1364M – 1441M), yang merupakan salah satu murid Ibn Khaldun, menggolongkan inflasi dalam dua golongan yaitu natural inflation dan human error inflation. 

Natural inflation

Sesuai dengan namanya natural inflation, Inflasi ini disebabkan oleh sebab alamiah yang diakibatkan oleh turunnya Penawaran agregat (AS) atau naiknya Permintaan agregat (AD), orang tidak mempunyai kendali atasnya (dalam hal mencegahnya).

MV = PT = Y

Dimana :M = Jumlah uang beredar
V = kecepatan peredaran uang
P = tingkat harga
T = jumlah barang dan jasa (Q)
Y = tingkat pendapan nasional (GDP)

Maka natural inflation dapat diartikan sebagai berikut: 

  1. Gangguan terhadap jumlah barang dan jasa (T) yang diproduksi dalam suatu perekonomian. Misal T turun, sedangkan M dan V tetap, maka konsekuensinya P akan naik. 

Naiknya daya beli masyarakat secara riil, misalnya nilai ekspor lebih besar dari nilai impor sehingga secara netto terjadi impor uang yang mengakibatkan M naik, sehingga jika V dan T tetap, maka P akan naik.
Keseimbangan permintaan dan penawaran juga pernah terjadi dizaman Rasulullah SAW. Dalam hal ini Rasulullah SAW tidak mau menghentikan atau mempengaruhi pergerakan harga ini sesuai Hadist: Anas meriwayatkan, ia berkata: Orang-orang berkata kepada Rasulullah SAW, ” Wahai Rasululluah, harga-harga barang naik (mahal), tetapkanlah harga untuk kami”. Rasulullah SAW lalu menjawab,”Allah-lah Penentu harga, Penahan, Pembentang, dan Pemberi riszki. Aku berharap tatkala bertemu Allah, tidak ada seorangpun yang meminta padaku tentang adanya kedhaliman dalam urusan darah dan harta.” 

Human error inflation.

Human error inflation adalah inflasi yang terjadi karena kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh manusia sendiri (QS Ar-Rum ayat 41). Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan Karena perbuatan tangan manusi, supay Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).  Adapun beberapa penyebabnya di antaranya :

  • Korupsi dan administrasi yang buruk (corruption and abad administration)
  • Pajak yang berlebihan (excessive tax)Excessive tax dapat mengakibatkan terjadinya efficency loss atau dead weight loss. Pencetakan uang dengan maksud menarik keuntungan yang berlebihan (excessive seignorage).
  • Pencetakan uang dengan maksud menarik keuntungan yang berlebihan (Escessive Seignorage)   

Ekonom Islam, Al-Maqrizi berpendapat bahwa pencetakan uang yang berlebihan jelas akan mengakibatkan naiknya tingkat harga umum (inflasi). Kenaikan harga komoditi tersebut adalah kenaikan dalam bentuk jumlah uang (fulus) atau nominal, sedangkan jika diukur dalam emas (dinar emas) maka harga komoditi tersebut jarang sekali mengalami kenaikan.

DAFTAR PUSTAKA

  • Karim, Adiwarman A, Ekonomi Makro Islami, Cetakan ke-2, PT Rajagrafindo Persada, Jakarta, 2007 
  • Makalah-makalah Inflasi dalam Pesfektif Islam
About these ads

Comments»

1. fenny - December 28, 2007

ekonomi selalu menjadi hal yang hangat utk dikupas, didalami, dibahas dan ditelaah. tulisan2 bapak tentang ini pastinya akan sangat berguna bagi siapa saja. Saya tidak terlalu mengerti tentang ekonomi tp setidaknya saya mencoba untuk membacanya sebagai wacana bagi saya….good pak, more info we waiting for…..btw pak suheri, itu vodpotpod and flickr photo apa memang ditampilkan di blogg ini ya pak, krn setelah saya klik rasanya contentnya gak berhub dgn topik yg bpk sajikan (bahkan ada picture2 yg krg sip di etika kita). Coba bpk tinjau lg…thx

2. MENEKAN TINGKAT INFLASI DALAM PERSPEKTIF AL-MAQRIZI « ridaingz - July 19, 2012

[...] Suheri, Inflasi Dalam Perspektif Islam, http://suherilbs.wordpress.com/2007/12/09/inflasi-dalam-perspektif-islam/accessed 24 januari [...]


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: